Pasang Iklan Gratis

Iran beri izin 7 negara melintasi Selat Hormuz, kapal Indonesia masih tertahan

 Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merilis daftar tujuh negara yang mendapat izin khusus untuk melintasi Selat Hormuz secara aman.

Kebijakan akses selektif ini diterapkan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang berdampak pada lalu lintas Kapal Tanker minyak dunia.

Negara-negara yang telah mendapatkan lampu hijau tersebut adalah China, Rusia, Pakistan, Irak, India, Bangladesh, dan yang terbaru adalah Thailand.

Izin melintas diberikan secara khusus kepada negara-negara yang dianggap bersahabat atau telah melakukan koordinasi diplomatik resmi dengan otoritas Iran.

Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup total, namun pengamanan ketat diberlakukan bagi setiap armada yang lewat.

Banyak pemilik kapal dari berbagai negara telah menghubungi pihak Iran untuk meminta jaminan keselamatan pelayaran bagi aset mereka.

Sebagai bentuk dukungan, angkatan bersenjata Iran memberikan pengawalan khusus bagi kapal-kapal dari negara yang dinilai perlu mendapatkan perlindungan.

Terbaru, kapal tanker milik Bangchak Corporation asal Thailand dilaporkan berhasil melintasi selat tersebut 

Keberhasilan Thailand ini terjadi setelah adanya pembicaraan diplomatik intensif antara Menlu Sihasak Phuangketkeow dan pemerintah Iran.

"Saya meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman," kata Sihasak, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

"Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas," sambungnya sebagaimana dikutip Bangkok Post.

Langkah koordinasi ini dilakukan Thailand menyusul insiden penyerangan proyektil terhadap kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, sebelumnya.

Kapal Pertamina Masih Tertahan

Sementara itu, hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Indonesia masih belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Kedua kapal tersebut adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Berdasarkan data pelacakan kapal, Pertamina Pride berada di perairan utara Dammam, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di dekat wilayah Kuwait dan Irak.

Menurut pernyataan Pertamina International Shipping, Pertamina Pride membawa kargo untuk kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro mengangkut muatan milik pihak ketiga.

"Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri," ujar Vega Pita, Pjs Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping, melalui akun resmi Instagram @pertaminainternationalshipping.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia saat ini masih menjalin komunikasi dengan otoritas Iran agar kedua kapal tersebut dapat segera memperoleh izin melintasi Selat Hormuz.

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tidak Ditutup Total

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, namun akses pelayaran diberikan secara selektif kepada negara-negara tertentu yang dianggap bersahabat atau telah melakukan koordinasi dengan otoritas Iran.

"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.

"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," tambahnya.

"Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir," lanjutnya.

Lalu Lintas Kapal Turun Drastis

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz menurun tajam sejak konflik meningkat.

Dalam satu bulan terakhir, hanya sekitar 99 kapal yang melintas atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.

Sebelum konflik, jumlah kapal yang melintasi selat ini mencapai sekitar 138 kapal per hari.

Selat Hormuz merupakan jalur vital karena menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Analisis sejumlah lembaga menunjukkan sebagian pelayaran yang masih berlangsung memiliki keterkaitan dengan Iran, termasuk kapal berbendera Iran maupun kapal yang terhubung dengan perdagangan minyak negara tersebut.

Beberapa kapal juga memilih rute lebih panjang dan lebih dekat ke perairan Iran agar dapat berada dalam pengawasan otoritas setempat demi alasan keamanan.

Donald Trump Minta Blokade Dibuka

Sementara itu, Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, seiring dengan dibukanya lagi kuota impor minyak Iran sebesar 140 ribu barel oleh Amerika Serikat.

Dalam akun media sosialnya, Truth Social Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi perang Timur Tengah.

Trump pada Sabtu (21/3/2026) menyatakan, Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran.

Ia menegaskan, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dengan yang terbesar.

Presiden ke-47 AS itu juga menetapkan batas waktu hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB) sesuai waktu unggahannya.

Ultimatum ini muncul hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang.

Pada saat bersamaan, Selat Hormuz masih tertutup dan ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Iran beri izin 7 negara melintasi Selat Hormuz, kapal Indonesia masih tertahan"

Posting Komentar