Pasang Iklan Gratis

Rencana rahasia gulingkan pemerintah Iran berujung gagal, Mossad pecat 2 pejabat seniornya

 Direktur Mossad Roman Gofman dilaporkan memecat dua pejabat paling senior badan intelijen Israel yang berperan penting dalam penyusunan rencana rahasia untuk menggulingkan pemerintahan Iran.

Langkah ini dilakukan di tengah mencuatnya laporan bahwa operasi perubahan rezim yang disiapkan selama bertahun-tahun itu gagal mencapai target.

Laporan Channel 12 Israel pada Kamis (6/8) menyebut dua pejabat tersebut adalah kepala Direktorat Intelijen Mossad yang menjabat sejak Desember lalu dan kepala Divisi Iran.

Keduanya dikenal sebagai arsitek utama strategi yang dirancang untuk menjatuhkan Republik Islam Iran melalui kombinasi operasi militer, dukungan terhadap kelompok minoritas, hingga memicu gelombang demonstrasi besar.

Meski dicopot dari jabatan strategisnya, sumber keamanan yang dikutip Channel 12 menegaskan keputusan itu dilakukan atas dasar kesepakatan bersama. Keduanya disebut tetap akan bertugas di Mossad dalam posisi berbeda sebagai bagian dari reorganisasi besar yang dipimpin Gofman.

Menurut laporan tersebut, dokumen operasi rahasia itu sempat dipresentasikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat berusaha meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendukung perang terhadap Iran pada Februari lalu.

Strategi tersebut diyakini dapat membuka jalan bagi perubahan rezim di Teheran dengan memanfaatkan situasi keamanan yang memburuk setelah serangan militer Israel dan Amerika Serikat.

Andalkan Kelompok Kurdi untuk Memicu Pemberontakan

Salah satu inti rencana Mossad adalah melancarkan serangan terhadap posisi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah Kurdistan Iran, dekat perbatasan Irak.

Sementara itu, mengutip laporan The New York Times, serangan itu dimaksudkan untuk membuka jalur bagi pejuang Kurdi memasuki Iran dan merebut sejumlah kota di wilayah barat laut negara tersebut.

Mossad memperkirakan ribuan pemuda Kurdi akan bergabung sehingga memicu gerakan bersenjata yang berkembang menjadi gelombang perlawanan nasional. Harapannya, jutaan warga Iran ikut turun ke jalan dalam aksi protes hingga akhirnya mampu menjatuhkan pemerintahan di Teheran.

Namun skenario tersebut tidak pernah berjalan sesuai rencana. Pada awal perang Februari lalu, Israel dan Amerika Serikat memang sempat melancarkan serangan besar terhadap berbagai target keamanan Iran, mulai dari pejabat pemerintah, pangkalan militer, sistem rudal, kantor polisi hingga markas Basij di wilayah barat laut Iran.

Operasi itu bertujuan melemahkan pertahanan Iran sekaligus mempermudah pergerakan kelompok Kurdi. Akan tetapi, kebocoran informasi ke media, tekanan diplomatik dari Turki, serta keraguan kelompok Kurdi sendiri membuat Washington akhirnya menghentikan rencana tersebut.

Laporan itu juga mengungkap salah satu bagian paling kontroversial dalam rencana Mossad, yakni menempatkan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemimpin baru apabila pemerintahan saat ini berhasil digulingkan.

The New York Times sebelumnya melaporkan Israel telah melakukan pendekatan terhadap Ahmadinejad selama beberapa tahun. Upaya itu disebut mencakup pertemuan antara Ahmadinejad dengan mantan Kepala Mossad David Barnea di sela sebuah konferensi akademik di Hungaria.

Namun, kantor Ahmadinejad membantah laporan tersebut dan menyatakan pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Selain mendorong perubahan pemerintahan, Israel dan Amerika Serikat juga disebut ingin melumpuhkan kemampuan militer Iran, termasuk program nuklir serta rudal balistik yang selama ini dianggap menjadi ancaman bagi Israel dan sekutunya.

Meski demikian, optimisme Netanyahu bahwa pemerintahan Iran dapat dijatuhkan ternyata tidak sepenuhnya diyakini para pejabat tinggi Amerika Serikat.

Dalam laporan The New York Times pada April lalu disebutkan bahwa Direktur CIA dan Menteri Luar Negeri AS pada masa pemerintahan Donald Trump kemudian menyebut prediksi Netanyahu mengenai perubahan rezim di Iran sebagai sesuatu yang 'farcical' dan 'bullshit'.

Meski begitu, laporan tersebut menyebut Trump bersama sejumlah penasihatnya sempat percaya bahwa kepemimpinan Iran bisa disingkirkan dan kemampuan militernya dihancurkan melalui operasi gabungan yang disiapkan Israel dan Amerika Serikat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rencana rahasia gulingkan pemerintah Iran berujung gagal, Mossad pecat 2 pejabat seniornya"

Posting Komentar